Sabtu, 15 Agustus 2015

Pemanfaatan Teknologi Secara Baik

Posted by Unknown On 06.21



Kala ini semakin sulit ditemukan lingkungan yang memenuhi syarat kesehatan hidup, karena dominasi kehadiran manusia yang cenderung mengubah keadaan disekelilingnya. Dimana ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat mengikuti arus waktu. Banyak manusia yang memiliki ambisi untuk mencari ilmu dengan tujuan agar  manusia  memperoleh kehormatan berdasarkan penemuan-penemuan yang diperolehnya.
            Teknologi sebagai budidaya manusia dalam beradaptasi dengan alam sesuai dengan maksud dan tujuan manusia penggunanya. Alhasil teknologi adalah ide-ide manusia dalam mempermudah aktifitas pencapaian tujuan. Aktivitas manusia yang dinamik dan cenderung berkembang tanpa batas sangat mempengaruhi keadaan lingkungan hidup. Teknologi sungguh bermacam-macam, ada teknologi informasi, komunikasi, transportasi, pengobatan, pendidikan, mesin, elektronika, bangunan, robot, dan masih banyak lagi. Sayangnya, tidak sedikit dari penemuan mereka yang memiliki dampak buruk terhadap lingkungan.
Industri yang mengalami laju pertumbuhan relatif cepat merupakan bagian dari teknologi. Teknologi industri sebagai teknologi yang modern memiliki andil besar dalam proses perubahan panas bumi (global warming). Beberapa dampak negatif yang diakibatkan oleh proses industri antara lain, pencemaran udara, pencemaran air dan pencemaran tanah. Pembangunan industri dapat menimbulkan dampak negatif berupa memperburuknya kondisi biografis-kimia. Sebagai contoh masyarakat sekitar Kelurahan Sarudik, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara merasa terganggu dengan adanya Pabrik Karet, yang mana tepat berada dipinggir jalan raya dan berada pada kawasan penduduk. Gangguan berupa bau karet yang sering mengotori udara dapat menyebabkan penyakit gangguan pernapasan warga sekitar maupun warga yang melintasi pabrik.
Upaya ini dapat dilakukan dengan menciptakan suatu teknologi canggih yaitu peralatan elektronik berupa alat pengurang bahkan penghilang rasa bau keras dari limbah pabrik. Dengan adanya alat ini maka bau nyengat tersebut tidak akan mengganggu warga sekitar maupun pekerja pabrik itu sendiri. Kerja alat pengurang atau penghilang rasa bau ini, para teknisi dapat mencoba melihat dan meneliti dari sistem cara kerja ERV (Energy Recovery Ventilation) yang merupakan udara untuk menukar udara yang panas. Tujuannya adalah untuk mendapatkan pertukaran udara yang efektif dalam bangunan dan meminimalkan kerugian energi.
Penukar panas di ERV mentransfer energi panas dari tempat pembuangan udara keluar sehingga pasokan udara yang masuk kembali segar. Jika pada ERV hanya berperan menukar udara panas menjadi dingin, maka untuk alat pengurang rasa bau ini perlu ditambah kekuatan untuk proses pengumpulan atau perangkap bagi udara kotor (bau) untuk diubah menjadi udara bersih. Dengan begitu semua pabrik industri terutama pabrik pengolah jenis bahan mentah yang mengandung bau busuk sangat pekat, tidak akan menjadi masalah lagi terhadap pencemaran udara. Jika para teknisi tidak mampu menghasilkan teknologi ini tanpa memberikan dampak buruk seperti global warming, maka disekitar pabrik harus wajib disediakan lahan tanaman untuk menangkap panas yang dikeluarkan dari alat pengurang bau tersebut.
Jika kita kaji lebih luas, ERV ternyata tidak hanya dapat digunakan di rumah maupun di dalam mobil sebagai pengganti udara. Dengan bakat kreatif yang kita punya, ERV dapat dimanfaatkan dengan baik untuk menutupi kelemahan helm yaitu, pengap dan panas yang sering kita rasakan ketika menggunakan helm. Dengan adanya ERV dalam design helm ini, maka para pengguna motor akan lebih nyaman karena mereka akan memperoleh udara dingin dari alat ERV tersebut. ERV yang diberikan harus memiliki tekanan yang lebih kecil dari yang biasanya di rancang untuk mobil bahkan rumah. Udara yang dihasilkan ERV nanti pada helm akan memiliki tingkat suhu yang normal untuk mencegah kantuk jika suhu yang dihasilkan terlalu dingin.
Selain industri, dampak negatif pengaruh teknologi terhadap lingkungan yaitu dengan menggunakan teknologi secara berlebihan dapat merusak lingkungan. Kebutuhan energi terus meningkat. Guna mencukupi kebutuhan ini, salah satu jalan yang dapat dilakukan adalah menghemat pemakaiannya. Dengan begitu, tingkat kepedulian kita terhadap lingkungan semakin meningkat karena dampak negatif teknologi tersebut.
Kita dapat melihat bahwa begitu banyak hal yang dapat kita lakukan untuk membangun rumah ideal hemat listrik untuk keluarga. Dimulai dari memilih pelapis dinding dan atap yang memastikan rumah tidak menyimpan atau menyerap panas sinar matahari sehingga mengurangi beban mendinginkan ruang atau rumah. Contoh pelapis dinding yang mudah digunakan ada Cool Coating. Lalu, bisa menggunakan alat ventilasi dengan teknologi terkini yang hemat listrik dan dapat membantu kerja AC di rumah seperti memilih ERV (Energy Recovery Ventilator) yang tepat karena ERV yang sesungguhnya memberikan kontribusi untuk penghematan energi melalui kemampuannya untuk mengurangi kerugian panas, belum lagi manfaat tambahan untuk menjaga kualitas udara yang baik dalam ruangan dan mencegah kelembaban.
Untuk memaksimalkan manfaat penghematan energi, penting bagi kami untuk menemukan cara yang sangat efisien, efisien dalam pemanfaatan panas dan efisien dalam pengoperasiannya. Terakhir,  kita juga bisa memasang jendela yang 'tight' sehingga mengurangi kebocoran udara dingin dari AC dalam ruang seperti contohnya Super Window yang cocok untuk merenovasi atau memperbaiki jendela yang sudah ada sekarang di rumah.
Sekarang ini AC (Air Conditioner) atau pendingin ruangan tentulah bukan barang asing lagi bagi kita, apalagi yang tinggal di daerah perkotaan. Malah AC seakan menjadi peralatan elektronik yang wajib ada mengingat betapa panasnya cuaca belakangan ini. Efek lingkungan dari AC ini salah satunya yaitu pemanasan global. Dengan pemakaian AC yang terlampau banyak itu kita pun menjadi salah satu penyabab dari pemanasan global yang sekarang telah banyak kita rasakan. Selain  AC menghasilkan udara dingin, AC juga mengeluarkan energi panas, energi yang dikeluarkan inilah yang ditampung di lingkungan sekitar dan menyebabkan panas mikro di sekitar mesin AC.
Perlu diingat sebagian besar AC menggunakan HFC, refrigerant yang jauh lebih kuat daripada karbon dioksida dalam kontribusinya bagi efek rumah kaca dan pemanasan global. Tetapi dengan semakin canggihnya tingkat pemikiran manusia, dampak negatif dari AC tersebut dapat kita manfaatkan menjadi sumber panas shower air mandi. Kemampuan panas yang dihasilkan AC  yang sangat tinggi, akan mampu menjadi bahan pembakar air dingin tanpa menggunakan tenaga listrik, gas, bahkan tenaga matahari bisa digantikannya. Dengan begitu, energi panas yang dikeluarkan AC tidak lagi berdampak buruk dalam  peningkatan global warming.

NB : Kita akan mampu meminimalkan dampak buruk penggunaan teknologi terhadap lingkungan hidup, jika kita bersama-sama memanfaatkannya dengan baik tanpa berlebihan.
Categories:

0 komentar :

Posting Komentar