Kala
ini semakin sulit ditemukan lingkungan yang memenuhi syarat kesehatan hidup,
karena dominasi kehadiran manusia yang cenderung mengubah keadaan
disekelilingnya. Dimana ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat mengikuti arus
waktu. Banyak manusia yang memiliki ambisi untuk mencari ilmu dengan tujuan
agar manusia memperoleh kehormatan berdasarkan penemuan-penemuan
yang diperolehnya.
Teknologi
sebagai budidaya manusia dalam beradaptasi dengan alam sesuai dengan maksud dan
tujuan manusia penggunanya. Alhasil teknologi adalah ide-ide manusia dalam
mempermudah aktifitas pencapaian tujuan. Aktivitas manusia yang dinamik dan
cenderung berkembang tanpa batas sangat mempengaruhi keadaan lingkungan hidup. Teknologi sungguh bermacam-macam, ada teknologi
informasi, komunikasi, transportasi, pengobatan, pendidikan, mesin,
elektronika, bangunan, robot, dan masih banyak lagi. Sayangnya, tidak sedikit
dari penemuan mereka yang memiliki dampak buruk terhadap lingkungan.
Industri yang
mengalami laju pertumbuhan relatif cepat merupakan bagian dari teknologi.
Teknologi industri sebagai teknologi yang modern memiliki andil besar dalam
proses perubahan panas bumi (global warming).
Beberapa dampak negatif yang diakibatkan oleh proses
industri antara lain, pencemaran udara, pencemaran air dan pencemaran tanah. Pembangunan
industri dapat menimbulkan dampak negatif berupa memperburuknya kondisi biografis-kimia.
Sebagai contoh masyarakat sekitar Kelurahan Sarudik, Kabupaten Tapanuli Tengah,
Sumatera Utara merasa terganggu dengan adanya Pabrik Karet, yang mana tepat
berada dipinggir jalan raya dan berada pada kawasan penduduk. Gangguan berupa bau
karet yang sering mengotori udara dapat menyebabkan penyakit gangguan
pernapasan warga sekitar maupun warga yang melintasi pabrik.
Upaya
ini dapat dilakukan dengan menciptakan suatu teknologi canggih yaitu peralatan
elektronik berupa alat pengurang bahkan penghilang rasa bau keras dari limbah
pabrik. Dengan adanya alat ini maka bau nyengat tersebut tidak akan mengganggu
warga sekitar maupun pekerja pabrik itu sendiri. Kerja alat pengurang atau
penghilang rasa bau ini, para teknisi dapat mencoba melihat dan meneliti dari
sistem cara kerja ERV (Energy Recovery
Ventilation) yang merupakan udara untuk menukar udara
yang panas. Tujuannya adalah untuk mendapatkan pertukaran udara yang efektif
dalam bangunan dan meminimalkan kerugian energi.
Penukar
panas di ERV mentransfer energi panas dari tempat pembuangan udara keluar
sehingga pasokan udara yang masuk kembali segar. Jika pada ERV hanya berperan
menukar udara panas menjadi dingin, maka untuk alat pengurang rasa bau ini
perlu ditambah kekuatan untuk proses pengumpulan atau perangkap bagi udara
kotor (bau) untuk diubah menjadi udara bersih. Dengan begitu semua pabrik
industri terutama pabrik pengolah jenis bahan mentah yang mengandung bau busuk
sangat pekat, tidak akan menjadi masalah lagi terhadap pencemaran udara. Jika
para teknisi tidak mampu menghasilkan teknologi ini tanpa memberikan dampak
buruk seperti global warming, maka disekitar pabrik harus wajib disediakan
lahan tanaman untuk menangkap panas yang dikeluarkan dari alat pengurang bau
tersebut.
Jika
kita kaji lebih luas, ERV ternyata tidak hanya dapat digunakan di rumah maupun
di dalam mobil sebagai pengganti udara. Dengan bakat kreatif yang kita punya,
ERV dapat dimanfaatkan dengan baik untuk menutupi kelemahan helm yaitu, pengap
dan panas yang sering kita rasakan ketika menggunakan helm. Dengan adanya ERV
dalam design helm ini, maka para pengguna motor akan lebih nyaman karena mereka
akan memperoleh udara dingin dari alat ERV tersebut. ERV yang diberikan harus
memiliki tekanan yang lebih kecil dari yang biasanya di rancang untuk mobil
bahkan rumah. Udara yang dihasilkan ERV nanti pada helm akan memiliki tingkat
suhu yang normal untuk mencegah kantuk jika suhu yang dihasilkan terlalu
dingin.
Selain
industri, dampak negatif pengaruh teknologi terhadap lingkungan yaitu dengan
menggunakan teknologi secara berlebihan dapat merusak lingkungan. Kebutuhan
energi terus meningkat. Guna mencukupi kebutuhan ini, salah satu jalan yang
dapat dilakukan adalah menghemat pemakaiannya. Dengan begitu, tingkat kepedulian
kita terhadap lingkungan semakin meningkat karena dampak negatif teknologi
tersebut.
Kita
dapat melihat bahwa begitu banyak hal yang dapat kita lakukan untuk membangun
rumah ideal hemat listrik untuk keluarga. Dimulai dari memilih pelapis dinding
dan atap yang memastikan rumah tidak menyimpan atau menyerap panas sinar
matahari sehingga mengurangi beban mendinginkan ruang atau rumah. Contoh
pelapis dinding yang mudah digunakan ada Cool Coating. Lalu,
bisa menggunakan alat ventilasi dengan teknologi terkini yang hemat listrik dan
dapat membantu kerja AC di rumah seperti memilih ERV (Energy Recovery Ventilator) yang tepat karena ERV yang sesungguhnya memberikan kontribusi untuk
penghematan energi melalui kemampuannya untuk mengurangi kerugian panas, belum
lagi manfaat tambahan untuk menjaga kualitas udara yang baik dalam ruangan dan mencegah
kelembaban.
Untuk
memaksimalkan manfaat penghematan energi, penting bagi kami untuk menemukan cara
yang sangat efisien, efisien dalam pemanfaatan panas dan efisien dalam
pengoperasiannya. Terakhir, kita juga bisa memasang jendela yang 'tight'
sehingga mengurangi kebocoran udara dingin dari AC dalam ruang seperti contohnya
Super Window yang cocok untuk merenovasi atau memperbaiki jendela
yang sudah ada sekarang di rumah.
Sekarang
ini AC (Air Conditioner)
atau pendingin ruangan tentulah bukan barang asing lagi bagi kita, apalagi yang
tinggal di daerah perkotaan. Malah AC seakan menjadi peralatan elektronik yang
wajib ada mengingat betapa panasnya cuaca belakangan ini. Efek lingkungan dari
AC ini salah satunya yaitu pemanasan
global. Dengan pemakaian AC yang terlampau banyak itu kita pun menjadi
salah satu penyabab dari pemanasan global yang sekarang telah banyak kita
rasakan. Selain AC menghasilkan udara dingin, AC juga mengeluarkan energi
panas, energi yang dikeluarkan inilah yang ditampung di lingkungan sekitar dan
menyebabkan panas mikro di sekitar mesin AC.
Perlu diingat sebagian besar AC
menggunakan HFC, refrigerant yang jauh lebih kuat daripada karbon
dioksida dalam kontribusinya bagi efek rumah kaca dan pemanasan global. Tetapi
dengan semakin canggihnya tingkat pemikiran manusia, dampak negatif dari AC tersebut
dapat kita manfaatkan menjadi sumber panas shower air mandi. Kemampuan panas
yang dihasilkan AC yang sangat tinggi, akan
mampu menjadi bahan pembakar air dingin tanpa menggunakan tenaga listrik, gas,
bahkan tenaga matahari bisa digantikannya. Dengan begitu, energi panas yang
dikeluarkan AC tidak lagi berdampak buruk dalam
peningkatan global warming.




